September 30, 2026

Beras Bisa Diperkaya Vitamin dan Mineral, Pakar IPB Ungkap Teknologi di Baliknya

0
20058

KOTA BOGOR – Beras yang terlihat seperti buliran biasa ternyata dapat membawa tambahan vitamin dan mineral melalui proses fortifikasi. Teknologi tersebut dikembangkan agar pangan pokok masyarakat tidak hanya menjadi sumber energi, tetapi juga dapat membantu memenuhi kebutuhan mikronutrien.

Kepala SEAFAST IPB University, Dr Puspo Edi Giriwono, mengatakan beras fortifikasi mendapatkan tambahan beberapa zat gizi penting, antara lain vitamin B1, B9, dan B12, serta mineral besi dan zink.

“Beras fortifikasi adalah beras yang mendapatkan tambahan mikronutrien, yaitu tiga vitamin dan dua mineral,” jelas Puspo.

Besi memiliki peran penting dalam membantu menurunkan risiko anemia, sedangkan zink berfungsi dalam mendukung sistem kekebalan tubuh dan proses pertumbuhan.

Namun, memasukkan vitamin dan mineral ke dalam beras bukan sekadar mencampurkan bahan tambahan. Teknologi yang digunakan harus memastikan kandungan tersebut tetap bertahan selama penyimpanan, pencucian, hingga proses memasak.

Puspo menjelaskan terdapat tiga pendekatan utama dalam proses fortifikasi beras, yakni coating, dusting, dan ekstrusi.

Pada metode ekstrusi, fortifikan dimasukkan ke dalam struktur buliran beras. Cara tersebut dinilai membuat kandungan gizi lebih terlindungi dibandingkan metode yang hanya menempatkan fortifikan di bagian permukaan.

Kondisi itu juga berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat yang mencuci beras sebelum dimasak. Bila vitamin dan mineral hanya berada di permukaan bulir, sebagian kandungannya dapat ikut larut bersama air pencucian.

Selain aspek teknologi, penerapan fortifikasi dalam skala besar juga membutuhkan dukungan ekosistem industri. Produsen skala kecil dan menengah perlu memiliki akses terhadap teknologi, pembiayaan, dan bahan fortifikan.

Pengujian kualitas juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan perbandingan fortifikan terhadap beras yang dapat mencapai 1:100, kesalahan dalam proses pencampuran atau pengambilan sampel dapat menghasilkan data yang tidak menggambarkan kondisi produk secara keseluruhan.

Puspo menambahkan bahwa setiap vitamin dan mineral memiliki tingkat kestabilan berbeda selama penyimpanan.

Karena itu, diperlukan kajian berbasis data untuk memastikan kadar zat gizi tetap sesuai standar mulai dari tahap produksi hingga beras sampai ke tangan konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *