Kenapa Manusia Sering Memaki Saat Emosional? Ternyata Ada Peran Otak dan Hormon
HALLO BEKASI – Pernahkah kamu tiba-tiba mengeluarkan kata kasar ketika kaget, kesal, atau menghadapi masalah? Atau spontan berkata “astaga”, “ya ampun”, “Masya Allah”, bahkan berteriak saat melihat sesuatu yang mengejutkan atau mengagumkan?
Respons seperti itu ternyata bukan sekadar kebiasaan berbicara. Para ahli melihat bahwa munculnya kata-kata spontan saat emosi meningkat merupakan bagian dari cara otak manusia merespons pengalaman yang memiliki muatan emosional kuat.
Dorongan untuk memaki atau mengumpat memang sering dikaitkan dengan kemarahan. Namun, sebenarnya respons verbal tersebut bisa muncul dalam berbagai kondisi, mulai dari rasa kecewa, takut, sedih, terkejut, kagum, hingga perasaan bahagia yang sangat besar.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa manusia bukan hanya digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi alat untuk mengekspresikan kondisi batin.
Ketika seseorang mengalami lonjakan emosi, otak akan mengaktifkan sistem limbik, terutama bagian bernama amigdala yang berperan dalam mengatur respons emosional. Amigdala bekerja cepat untuk mengenali sesuatu yang dianggap penting, mengejutkan, mengancam, atau menyenangkan.
Aktivitas tersebut kemudian memengaruhi tubuh melalui pelepasan zat kimia dan hormon tertentu. Saat menghadapi tekanan atau ancaman, tubuh dapat melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol.
Adrenalin membantu tubuh menjadi lebih waspada dengan meningkatkan energi dan kesiapan menghadapi situasi tertentu, sementara kortisol membantu tubuh mengelola tekanan. Sebaliknya, ketika seseorang mengalami rasa bahagia, kagum, atau terharu, otak juga dapat melibatkan zat kimia seperti dopamin dan endorfin yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan.
Perubahan kimiawi dalam tubuh inilah yang membuat emosi terasa lebih kuat dan dapat memunculkan reaksi spontan, termasuk melalui kata-kata tertentu.
Dalam kondisi emosi yang tinggi, terutama saat marah atau frustrasi, kemampuan korteks prefrontal—bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri, pertimbangan rasional, dan penyaringan perilaku—dapat menurun sementara.
Akibatnya, seseorang bisa mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya mungkin tidak akan diucapkan ketika kondisi pikirannya lebih tenang.
Selain menjadi luapan emosi, mengeluarkan suara keras, seruan, atau makian juga memiliki fungsi psikologis. Respons tersebut dapat menjadi cara tubuh melepaskan ketegangan akibat tekanan emosional. Meski dapat memberikan rasa lega sesaat, hal itu tidak selalu menyelesaikan penyebab utama munculnya emosi.
Menariknya, kebiasaan menggunakan suara untuk mengekspresikan emosi ternyata memiliki akar yang lebih tua dari sejarah manusia. Dalam perspektif bioevolusi, berbagai makhluk hidup telah menggunakan suara sebagai alat komunikasi sebelum manusia mengenal bahasa kompleks.
Primata, anjing, dan beberapa jenis burung, misalnya, menggunakan suara tertentu seperti geraman, pekikan, atau panggilan peringatan untuk menunjukkan ancaman, mempertahankan wilayah, berkomunikasi dengan kelompok, atau menunjukkan kondisi emosional.
Tentu saja hewan tidak dapat “memaki” seperti manusia karena tidak memiliki sistem bahasa simbolik yang rumit. Namun, perilaku tersebut menunjukkan bahwa penggunaan suara sebagai respons terhadap emosi memiliki akar evolusi yang panjang.
Pada manusia, kemampuan bahasa membuat ekspresi emosional berkembang menjadi lebih kompleks. Sebuah kata tidak hanya memiliki arti, tetapi juga membawa nilai sosial dan budaya.
Kata makian dapat menjadi simbol kemarahan atau kekecewaan, sementara ungkapan seperti “Masya Allah” atau “luar biasa” dapat menjadi ekspresi rasa kagum dan penghormatan.
Karena itu, makna sebuah ungkapan emosional sangat bergantung pada konteks. Sebuah kata yang dianggap kasar dalam satu situasi bisa menjadi candaan dalam kelompok tertentu, sementara ungkapan sederhana dapat memiliki makna mendalam pada momen tertentu.
Pada akhirnya, kecenderungan manusia mengeluarkan kata-kata spontan saat emosional merupakan hasil perpaduan antara kerja otak, perubahan hormon, sejarah evolusi, kebutuhan psikologis, serta pengaruh lingkungan sosial.
Yang menjadi tantangan manusia bukan menghilangkan emosi, melainkan belajar mengenali dan mengelola respons agar tetap mampu memilih cara terbaik dalam mengekspresikannya.
